Latest Entries »

oleh: Yohanes Danang MD

NIM : 08601241014

A.Teori Behavioristik

.
a.Pengertian Teori Behavioristik .
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.            .
Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.

Teori behavioristik sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini dan tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya. Namun kelebihan dari teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shapping yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.

b.Aplikasi dalam Pembelajaran .
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.

Teori belajar behavioristik dengan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negative. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.
Beberapa prinsip penerapan teori belajar ini adalah:

(1) belajar itu berdasarkan keseluruhan;

(2) anak yang belajar merupakan keseluruhan;

(3) belajar berkat insight

(4) belajar berkat insight; dan

(5) belajar berdasarkan pengalaman.

B.Pengertian Teori Sibernetik .

a.Pengertian Teori Sibernetik .
Menurut teori sibernetik, belajar adalah pengolahan informasi. Teori ini mempunyai kesamaan dengan teori kognitif yaitu mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar. Proses belajar memang penting dalam teori sibernetik, namun yang lebih utama lagi adalah sistem informasi yang akan dipelajari siswa.                     .
Asumsi lain dari teori sibernetik adalah bahwa tidak ada satu proses belajarpun yang ideal untuk situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi, sebuah informasi mungkin akan dipelajari oleh seorang siswa dengan satu macam proses belajar, dan informasi yang sama mungkin akan dipelajari siswa lain melalui proses belajar yang berbeda.

Proses belajar akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak dipelajari atau masalah yang hendak dipecahkan diketahui ciri-cirinya. Suatu materi lebih tepat disajikan dalam urutan teratur, linier, sekuensial. Materi lainnya lebih tepat disajikan dalam bentuk terbuka dan memberi keleluasan kepada siswa untuk berimajinasi dan berfikir.Teori sibernetik sebagai teori belajar dikritik karena lebih menekankan pada sistem informasi yang akan dipelajari, sedangkan bagaimana proses belajar berlangsung dalam diri individu sangat ditentukan oleh sistem informasi yang dipelajari teori ini memandang manusia sebagai pengolahan informasi, pemikir, dan pencipta. Sehingga diasumsikan manusia mampu mengolah, menyimpan, dan mengorganisasikan informasi

b.Aplikasi Teori Belajar Sibernetik dalam Kegiatan Pembelajaran .
Aplikasi teori belajar sibernetik dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irwan (2001) baik diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut:                             .
1.Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran                            .
2.Menentukan materi pembelajaran                                  .
3.Mengkaji sistem informasi yang terkandung dalam materi pelajaran                             .
4.Menentukan pendekatan belajar yang sesuai dengan sistem informasi tersebut (apakah  algoritmik atau heuristik)                                                    .
5.Menyusun materi pelajaran dalam urutan yang sesuai dengan sistem informasinya.
6.Menyajikan materi dan membimbing siswa belajar dengan pola yang sesuai dengan urutan materi pelajaran.

C.Teori Belajar Kognitif

Teori belajar kognitif menjelaskan belajar berfokus pada perubahan-perubahan proses mental internalyang digunakan dalam upaya memahami dunia eksternal. Proses tersebut digunakan mulai  dari mempelajari tugas-tugas sederhana seperti memecahkan masalah matematika, atau tugas-tugas sederhana lainnya. Dengan demikian teori kognitip menekankan bahwa dalam proses belajar siswa aktif dalam mengembangkan pemahaman mereka sendiri tentang topic yang mereka pelajari.

Dari perspektif kognitif, belajar adalah perubahan dalam struktur mental seseorang yang memberikan kapasitas untuk menunjukkan perubahan perilaku. Struktur mental ini meliputi : pengetahuan, pengetahuan, keyakinan, keterampilan dan harapan. Teori belajar kognitif menekankan pentingnya proses mental seperti berfikir dan memfokuskan pada apa yang terjadi pada siswa. Proses ini memungkinkan siswa untuk menginterprestasi dan mengorganisir informasi secara aktif , inilah prinsif dasar teori kognitif.

Menurut psikologi kognitif belajar dipandang sebagai usaha untuk mengerti sesuatu. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Para psikolog pendidikan kognitif berkeyakinan bahwa pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sangat menentukan keberhasilan mempelajari informasi atau pengetahuan yang baru.

teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

Implikasi teori perkembangan kognitif piaget dalam pembelajaran adalah :

a.  Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa , oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

b.  Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan sebaik-baiknya.

c.  bahan yang dipelajari anak hendaknya dirasakan baru, tetapi tidak asing

d.  Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya

e.  Didalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

D.Teori konstruktivisme

Pengertian teori belajar konstruktivisme

Adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan

Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide.

Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut

Tujuan Pembelajaran Aliran konstruktivisme lebih banyak menekankan tujuan pembelajaran pada belajar bagaimana belajar, dalam hal menciptakan pemahaman baru, yang menuntut aktivitas kreatif produktif dalam konteks nyata, yang mendorong seseorang untuk berpikir dan mendemonstrasikan apa yang telah atau sedang ia pelajari (Brooks & Brooks, 1993; Marzano, Pickering, & Mc Tighe, 1993). Dengan demikian, siswa diharapkan untuk dapat membangun atau menemukan ide-ide baru serta harus aktif dan kreatif dalam proses belajar dan pembelajaran secara konteks nyata. Hal tersebut tentunya akan membantu setiap siswa menjadi terdorong untuk mau berpikir dan mendemonstrasikan hasil pelajaran yang didapatnya di dalam proses belajar dan pembelajaran tersebut. Dengan demikian, tujuan pembelajarannya tidak bersifat penambahan pengetahuan sehingga belajar harus dilihat sebagai suatu aktifitas yang menuntut seseorang yang melakukan proses belajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes (Brooks & Brooks, 1993 dalam Degeng, 1998). Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar (learn how to learn) dalam teori pembelajaran konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan – aturan lama dan merevisinya bila aturan tersebut tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar – benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus benar – benar bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide – ide.

NAMA           : Yohanes danang MD

JURUSAN     : PJKR

NIM                : 08601241014

PENGUKURAN

1.      Pengukuran adalah kegiatan yang dilakukan untuk “mengukur” sesuatu.

2.      Pengukuran adalah kegiatan yang sistematik untuk menentukan angka pada suatu objek.

3.      Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

  • Pengukuran adalah kegiatan  yang dilakukan secara sistematik untuk mengukur suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

PENILAIAN

1.      Penilaian adalah penafsiran hasil pengukuran dan penentuan pencapaian hasil belajar.

2.      Penilaian adalah menilai sesuatu (mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau berpegang pada ukuran baik atau buruk, sehat atau sakit, dll).

3.      Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar pesserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

  • Penilaian adalah pencapaian hasil penafsiran dan penentuan tentang sejauh mana hasil belajar atau ketercapaian kemampuan peserta didik.

EVALUASI

1.      Evaluasi adalah kegiatan atau proses untuk menilai sesuatu.

2.      Evaluasi adalah penentuan nilai suatu program dan penentuan pencapaian tujuan suatu program.

3.      Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya.

  • Evaluasi adalah kegiatan untuk menilai apakah suatu program yang telah direncanakan dapat tercapai atau belum.

TUGAS PENDIDIKAN KESEHATAN SEKOLAH

LAPORAN HASIL OBSERVASI PELAKSANAAN UKS

SMA STELLA DUCE BANTUL

Ganjuran ,Sumbermulyo,Bambanglipuro, Bantul,Yogyakarta

 

 

 

DOSEN PEMBIMBING:

Erwin Setyo K, M.Kes

 

DILAPORKAN OLEH:

YOHANES DANANG MD

08601241014

PJKR A

 

 

PENDIDIKAN JASMANI, KESEHATAN DAN REKREASI

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2009/2010

 

 

 


HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Observasi ini disusun sebagai laporan pertanggungjawaban

mahasiswa dalam Observasi UKS, diSMA STELLA DUCE BANTUL , Bantul Tahun 2010. Sebagai tugas akhir dari Dosen pengampu mata kuliah”Pendidikan Kesehatan Sekolah”,

Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Yogyakarta.

Yogyakarta. 06 Januari 2010

Koordinator                                                                         Pelaksana Observasi

Drs.Vincentius Suharto                                                      Yohanes Danang MD

NIM : 08601241014

Mengetahui dan Mengesahkan

Kepala Sekolah

Drs. Petrus Susilo Kristiyanto

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Sekolah adalah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mencetak manusia yang pandai, terampil, berakhlak mulia dan sehat baik jasmani maupun rohani. Untuk itulah dalam setiap sekolah wajib mengusahakan adanya Unit Kesehatan Sekolah atau yang biasa disebut dengan UKS yaitu adalah segala usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik sedini mungkin, merupakan perpaduan dua upaya dasar yaitu pendidikan dan kesehatan anak usia sekolah pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan mulai dari TK/RA sampai SMA/SMK/MA yang salah satu tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan warga sekolah dan lingkungan di lingkup sekolah

Selain itu, UKS juga merupakan salah satu unsur yang sangat penting dan harus diperhatikan keberadaannya di sekolah-sekolah.

Oleh karena itu, observasi mengenai pelaksanaan UKS di sekolah bertujuan untuk mengetahui seberapa besar manfaat UKS disuatu sekolah untuk seluruh warga sekolah

B.   Rumusan Masalah

Dalam observasi ini, masalah yang dapat dirumuskan adalah bagaimana pelaksanaan  dan perlengkapan UKS di SMA Stella Duce Bantul dan seberapa besar manfaatnya bagi seluruh warga sekolah?

ISI LAPORAN

A.   STRUKTUR KEPENGURUSAN UKS SMA STELLA DUCE BANTUL

PENANGGUNGJAWAB          :  Drs.Petrus Susilo Krisiyanto(Kepala Sekolah)

PEMBINA OSIS                        :  Drs.Andreas Sumedi

KOORDINATOR                      :  Drs.Vincentius Suharto

PELAKSANA UKS                   :  Pengurus Osis(Sie Kemajuan Sekolah)

B.   FASILITAS DI UKS SMA STELLA DUCE BANTUL

1. Kamar                                                                  : 2 ruang(laki-laki&perempuan)

2. Tempat Tidur Pasien                                            : 4 buah

3. Meja                                                                     : 2 buah

4. Kursi Tunggu                                                       : 3 buah

5. Almari                                                                  : 2 Buah

6. Kalender                                                              : 2 Buah

7. Lampu                                                                  : 2 Buah

C.   ALAT-ALAT KESEHATAN

1. Termometer                                                  6. Kassa

2. Timbangan berat badan                              7. Kapas

3. Pengukur Tinggi Badan                              8. Tissue

4. Gunting                                                         9. Plester rol

5. Oxycan



D.   OBAT-OBATAN YANG TERSEDIA

1. Rivanol                                                               10. San Mol

2. Antimo                                                               11. Eagle Balm

3. Poldan mig                                                         12. Tuzalos

4. New Diatabs                                                      13. Neo napacin

5. Betadine                                                             14. Entrostop

6. Insto                                                                    15. Oralit

7. Procold                                                               16. Oskadon

8. Ultraflu                                                              17. Balsemlang

9. Neozep forte                                                      18. Tetes mata insto


E. VISI&MISI UKS

– Untuk menyediakan dan melayani siswa yang kurang sehat saat pembelajaran  disekolah

-Sebagai tempat pertolongan pertama bagi siswa

F.   KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN

  1. Lomba antar UKS
  2. Penataran siswa menjadi dokter kecil
  3. Kesehatan lingkungan sekolah
  4. Kebersihan sekolah
  5. Pemeriksaan tinggi&berat badan siswa
  6. Pemeriksaan masalah narkoba
  7. Rujukan ke puskesmas

MAKALAH PERKEMBANGAN MOTORIK

 

“Perkembangan Fisik dan Hubungan Sosial Remaja”

 

 

 

Oleh:

Yohanes Danang MD

08601241014

PJKR

PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa remaja adalah masa dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat cepat,dan masa remaja terjadi pada anak-anak yang berusia 12 atau 13 sampai dengan 19 tahun.Pada masa remaja pertumbuhan fisikmengalami perubahn dengan cepat, lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak dan dewasa.Untuk mengimbangi pertumbuhan yang cepat itu,remaja membutuhkan makan dan tidur yang lebih banyak.Dan ditinjau secara teoritis masa remaja terdiri masa adolesen dan puber

Pada awal masa adolesen seseorang mengalami perkembangan jasmani yang pesat karena organ-organ pada tubuh pada waktu itu sedang mampu-mampunya mengatasi gangguan apa saja yang didorong oleh kelenjar jenis.perkembangan tersebut disetai dengan kematangan seksual pertumbuhan jasmaniah. Dalam hal perkembangan seksual, wanita megalami kematangan lebih awal daripada laki-laki yang sebaya umurnya.Sedangkan dalam hal perkembangan jasmani,lebih dahulu laki-laki mengalami pertumbuhan jasmaninya.

Pada masa ini pula terjadi masa puber yaitu anak tidak suka lagi diperlakukan sebagai anak,tetapi ia belum termasuk golongan orang dewasa.Dan hal ini mempengaruhi pula seorang remaja pada faktor psikologis dan sosialnya.Hal ini akan berpengaruh juga pada perkembangan interaksi sosial pada remaja,yakni sudah semakin berkembang keinginan mencari dan menemukan jati dirinya sehingga konfrontmisme semakin berbenturan dengan upaya mencapai kemandirian atau individuasi.

BAB II

ISI

A.Perkembangan Fisik pada Remaja

Perubahan yang paling dirasakan oleh remaja pertama kali adalah perubahan fisik. Terjadi pubertas yaitu proses perubahan yang bertahap dalam internal dan eksternal tubuh anak-anak menjadi dewasa. Perubahan hormon termasuk hormone seksual membuat remaja menjadi tidak nyaman dengan dirinya dan juga sekaligus jadi sering terlalu fokus pada kondisi fisiknya. Misalnya : remaja jadi sering berkaca hanya untuk melihat jerawat atau poninya, jadi terlalu resah dengan bentuk tubuhnya, dan sebagainya.Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting, namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga, perkembangan fisik yang tidak proporsional. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual.

Perkembangan atau pertumbuhan anggota-anggota badan remaja, sebagaimana dikemukakan oleh Monks dkk. (1994), kadang-kadang lebih cepat daripada perkembangan badan. Oleh karena itu, untuk sementara waktu, seorang remaja mempunyai proporsi tubuh yang tidak seimbang. Hal ini akan menimbulkan kegusaran batin yang mendalam karena pada masa remaja ini, perhatian remaja sangat besar terhadap penampilan dirinya. Jadi remaja sendiri merupakan salah satu penilai yang penting terhadap badannya sendiri sebagai stimulus sosial. Bila sang remaja mengerti badannya telah memenuhi persyaratan, sebagaimana yang diharapkan oleh lingkungan sosialnya, maka hal ini akan berakibat positif terhadap penilaian diri.                          .
Secara umum perubahan-perubahan fisik remaja sebagai berikut :

1.Perempuan
Pertumbuhan payudara (3 – 8 tahun)
– Pertumbuhan rambut pubis/kemaluan (8 -14 tahun)
– Pertumbuhan badan (9,5 – 14,5 tahun)
– Menarche/menstruasi (10 – 16 tahun, kadang 7 thn)
– Pertumbuhan bulu ketiak (2 tahun setelah rambut pubis)
– Kelenjar menghasilkan minyak dan keringat (sama dengan tumbuhnya bulu ketiak)

2.Laki-laki
– Pertumbuhan testis (10 – 13,5 tahun)
– Pertumbuhan rambut pubis/kemaluan (10 – 15 tahun)
– Pembesaran badan (10,5 – 16 tahun)
– Pembesaran penis (11 – 14,5 tahun)
– Perubahan suara karena pertumbuhan pita suara (Sama dengan pembesaran penis)
– Tumbuhnya rambut di wajah dan ketiak (2 tahun setelah rambut pubis)
– Kelenjar menghasilkan minyak dan keringat (Sama dengan tumbuhnya bulu ketiak)

Sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu. Misalnya si Ani merasa kulitnya tidak putih seperti bintang film, maka Ani akan berusaha sekuat tenaga untuk memutihkan kulitnya. Perilaku Ani yang demikian tentu menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin Ani akan selalu menolak bila diajak ke pesta oleh temannya sehingga lama-kelamaan Ani tidak memiliki teman, dan sebagainya.

B. Perkembangan Hubungan Sosial Remaja

1.Pengertian Perkembangan Hubungan Sosial

Manusia tumbuh dan berkembang pada masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangan itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan .Interaksi sosial merupakan proses sosialisasi yang mendudukan anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial.                 .
Hubungan sosial merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian, tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi amat kompleks. Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.

2.Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja

Remaja pada tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, remaja telah mulai memperlihatkan dan mengenal berbagai norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam keluarganya. Remaja menghadapi berbagai lingkungan, bukan saja bergaul dengan berbagai kelompok umur. Dengan demikian, remaja mulai memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesama remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup.

• Pada masa remaja , anak mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma  pergaulan . Pergaulan sesama teman lawan jenis dirasakan sangat penting , tetapi cukup sulit , karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesame remaja juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup.                                                 .
• Kehidupan sosial remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional . Remaja sering mengalami sikap hubungan sosial yang tertuutup sehubungan dengan masalah yang dialaminya.                 .
• Menurut “ Erick Erison ‘ Bahwa masa remaja terjadi masa krisis , masa pencarian jati diri . Dia berpendapat bahwa penemuan jati diri seseorang didorong oleh sosiokultural . Sedangkan menurut Freud , Kehidupan sosial remaja didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan seksual.                   .
• Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok – kelompok , baik kelompok besar maupun klelompok kecil .

3.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial. .
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.                          .

a.Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.                .
Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.

b.Kematangan Anak .
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan.                             .
Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

c.Status Sosial Ekonomi .
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.                               .
Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.

d.Pedidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan(sekolah).             .
Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

e.Kapasitas Mental, Emosi, dan Integensi .
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.                     .
Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.

4.Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku .
Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh hide-ide dari teori – teori yang menyebabkan siakp kritis terhadap situasi dan orang lain.                    .
Pengaruh egosentris sering terlihat pada pemikiran remaja, yaitu :                                      a) Cita-cita dan idealisme yang baik , terlalu menitik beratkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat jauh dan kesulitan-kesulitan praktis.                     .
b) Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain
Pencerminan sifat egois dapat menyebabkan dalam menghadapi pendapat oaring lain , maka sifat ego semakin kecil sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang semakin baik dan matang .

5.Perbedaan Individual dalam Perkembangan Sosial. .
Bergaul dengan sesama manusia (sosialisasi) dilakukan oleh setiap orang, baik secara individual maupun berkelompok. Dilihat dari berbagai aspek, terdapat perbedaan individual manusia, yang hal itu tampak juga dalam perkembangan sosialnya.
Sesuai dengan Teori komprehensif yang dikemukakan oleh Erickson yang menyatakan bahwa manusia hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan segala Hal yang dibutuhkan manusia. Namun sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beranekaragam.Remaja yang telah mulai mengembangkan kehidupan bermasyarakat, maka telah mempelajari pola-pola yang sesuai dengan kepribadiannya.

6.Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam      Penyelenggaraan Pendidikan.

a) Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan rangsang   kepada mereka kearah perilaku yang bermanfaat.              .
b) Perlu sering diadakan kegiatan kerja bakti , bakti karya dan kelompok-kelompok belajar untuk dapat mempelajari remaja bersosialisasi sesamanya dan masyarakat .

BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

Pada jenjang perkembangan remaja, Perkembangan atau pertumbuhan anggota-anggota badan remaja kadang-kadang lebih cepat daripada perkembangan badan. Oleh karena itu, untuk sementara waktu, seorang remaja mempunyai proporsi tubuh yang tidak seimbang. Hal ini akan menimbulkan kegusaran batin yang mendalam karena pada masa remaja ini, perhatian remaja sangat besar terhadap penampilan dirinya.. Bila sang remaja mengerti badannya telah memenuhi persyaratan, sebagaimana yang diharapkan oleh lingkungan sosialnya, maka hal ini akan berakibat positif terhadap penilaian diri.

Seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia. Jadi remaja sendiri merupakan salah satu penilai yang penting terhadap badannya sendiri sebagai stimulus sosial karena perkembangan remaja sangat dipengarunhi oleh fisik dan lingkungan sekitarnya.                        .

DAFTAR PUSTAKA

– Alatas, Alwi. 2005. (Untuk) 13+, Remaja Juga Bisa Bahagia, Sukses, Mandiri. Jakarta: Pena.

– Endang Rini Sukamti dkk.2007.Diktat Perkembangan Motorik. Yogyakarta: FIK UNY

– Sarwono, S.W. 2000. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
– Sulaeman, D. 1995. Psikologi Remaja : Dimensi-Dimensi Perkembangan.Bandung: CV Mandar Maju.
http://www.g-excess.com/id/perkembangan-hubungan social remaja.

 

 

 

 

JATI DIRI

nama : yohanes danang

NIM: 08601241014

Ketika seseorang mengenakan topeng (“mask”) di wajahnya, maka akan tampil suatu ciri kepribadian yang sangat berbeda dengan kehidupan sesungguhnya dari orang yang mengenakannya. Seandainya yang mengenakan topeng dalam suatu pagelaran seni tersebut adalah salah seorang teman atau saudara yang semula kita kenal baik, maka kita juga tidak dapat mengenal identitas diri mereka lagi. Dengan topeng, seseorang dapat memerankan sosok diri yang sangat berbeda. Sebab identitas dirinya semula telah lenyap dan berganti dengan identitas diri yang lain. Sebenarnya kata “persona” yang menjadi kata dasar dari “person” (orang), “personal” (pribadi, perorangan), dan “personality” (kepribadian)  sebenarnya berasal dari istilah Roma kuno. Dalam pemahaman orang Roma kuno, istilah “persona” berarti “topeng” (“mask”);  selain itu “persona” (topeng) juga untuk menunjuk seseorang yang memiliki secara penuh kewarganegaraan Roma.  Saat seseorang memiliki secara penuh kewarganegaaran Roma, maka dia wajib memiliki identitas diri yang baru. Sebagai warga-negara Roma,  dia kini memiliki hak dan kewajiban yang saling mengikat sehingga dia tidak boleh bertingkah-laku sesuka hatinya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga  sering mengenakan “topeng” dalam berbagai bentuk, yaitu sikap yang mencoba untuk menyembunyikan jati-diri yang sesungguhnya agar orang-orang di sekitar kita tidak dapat mengetahui “watak asli” kita yang sesungguhnya. Untuk itu dengan wajah “bertopeng” yang demikian, kita akan berusaha menampilkan wajah yang selalu “manis” dan “ramah” padahal sesungguhnya hati kita saat itu penuh dengan kemarahan, iri-hati dan kebencian. Dengan penggunaan “topeng” kepribadian, maka umumnya kita akan diterima dengan baik oleh semua pihak. Sebab kita dapat menampilkan wajah yang selalu berubah-ubah sesuai dengan kehendak dan harapan orang-orang di sekitar kita. Pengertian “topeng  kepribadian” dalam konteks ini menunjuk upaya penyembunyian diri yang asli dan kemampuan untuk berubah-ubah seperti “bunglon”, namun secara esensial dia tidak memiliki identitas diri yang telah diperbaharui.  Jadi sepertinya “topeng kepribadian” berhasil memberi kesan dan bentuk identitas diri yang “baik”  dan mungkin “mengesankan” terhadap diri seseorang; tetapi sesungguhnya dia penuh dengan kemunafikan/kepalsuan diri. Namun semua “topeng kepribadian” tersebut akan segera terlepas dan terlihat  wajah aslinya saat dia mengalami kesusahan, hal-hal yang pahit dan mengecewakan. Wajah aslinya ternyata adalah sikap egoisme, sikap iri-hati, pendendam, haus pujian, berpikiran picik dan berjiwa kerdil. Dengan demikian makna “identitas diri” yang baru seharusnya jauh dari sikap munafik atau sikap pura-pura. Jadi makna identitas diri yang baru  pada hakikatnya menunjuk kepada pola kehidupan yang telah diperbaharui secara esensial, sehingga dia mampu meninggalkan segala sifat-sifat atau karakternya yang lama dan tidak terpuji. Transformasi terhadap identitas diri kita hanya akan terjadi ketika kita membiarkan Allah memukul dan meruntuhkan kekuatan atau kebanggaan kita. Selama kita merasa diri “kuat”, “berjaya”,  dan “selalu dapat melakukan apa yang dikehendaki” akan memperkuat kristalisasi terhadap jati-diri kita yang lama. Dengan kristalisasi terhadap jati-diri kita yang lama itu, justru makin menyulitkan diri kita untuk terus berubah dan mengalami pembaharuan hidup. Sebab dengan “topeng diri” kita yang makin menyatu dengan “struktur” kepribadian yang ada, maka kita sering tidak mampu lagi untuk membedakan realitas kebenaran dengan kecurangan, keadilan dengan kelaliman, kemuliaan dengan kehinaan, antara iman dengan keyakinan diri, dan antara kasih dengan kebencian.  Itu sebabnya kita sering menjumpai seseorang yang terus-menerus hidup dengan “topeng diri” sampai akhir hayatnya. Dia tidak pernah berani menatap wajah asli yang dimilikinya.  Apabila ada orang atau teman yang berusaha membantu untuk menunjukkan wajah asli yang dimilikinya, maka dia akan segera menyerang dan membenci mereka. Dia lebih menyukai kepalsuan dan kemunafikan dirinya; dan tidak pernah mau berubah. Orang-orang dengan karakter demikian sering melupakan satu hal yang prinsipial dalam hidup ini yaitu bahwa dia memang bisa menipu banyak orang, tetapi dia tidak dapat menipu setiap orang.

Identifikasi Masalah :

Untuk apa seseorang memerlukan jati diri ?

Apabila kita berinteraksi, sehingga mempunyai kekuatan mempengaruhi.

Agar kita tahu posisi apa/peran apa, dan bagaimana hubungannya.

Diperlukan dalam interaksi.

Setiap orang dapat mempunyai lebih darui satu identitas, semakin luas pergaulan maka semakin banyak berperan, maka banyak pula jati dirinya.

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!