JATI DIRI

nama : yohanes danang

NIM: 08601241014

Ketika seseorang mengenakan topeng (“mask”) di wajahnya, maka akan tampil suatu ciri kepribadian yang sangat berbeda dengan kehidupan sesungguhnya dari orang yang mengenakannya. Seandainya yang mengenakan topeng dalam suatu pagelaran seni tersebut adalah salah seorang teman atau saudara yang semula kita kenal baik, maka kita juga tidak dapat mengenal identitas diri mereka lagi. Dengan topeng, seseorang dapat memerankan sosok diri yang sangat berbeda. Sebab identitas dirinya semula telah lenyap dan berganti dengan identitas diri yang lain. Sebenarnya kata “persona” yang menjadi kata dasar dari “person” (orang), “personal” (pribadi, perorangan), dan “personality” (kepribadian)  sebenarnya berasal dari istilah Roma kuno. Dalam pemahaman orang Roma kuno, istilah “persona” berarti “topeng” (“mask”);  selain itu “persona” (topeng) juga untuk menunjuk seseorang yang memiliki secara penuh kewarganegaraan Roma.  Saat seseorang memiliki secara penuh kewarganegaaran Roma, maka dia wajib memiliki identitas diri yang baru. Sebagai warga-negara Roma,  dia kini memiliki hak dan kewajiban yang saling mengikat sehingga dia tidak boleh bertingkah-laku sesuka hatinya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga  sering mengenakan “topeng” dalam berbagai bentuk, yaitu sikap yang mencoba untuk menyembunyikan jati-diri yang sesungguhnya agar orang-orang di sekitar kita tidak dapat mengetahui “watak asli” kita yang sesungguhnya. Untuk itu dengan wajah “bertopeng” yang demikian, kita akan berusaha menampilkan wajah yang selalu “manis” dan “ramah” padahal sesungguhnya hati kita saat itu penuh dengan kemarahan, iri-hati dan kebencian. Dengan penggunaan “topeng” kepribadian, maka umumnya kita akan diterima dengan baik oleh semua pihak. Sebab kita dapat menampilkan wajah yang selalu berubah-ubah sesuai dengan kehendak dan harapan orang-orang di sekitar kita. Pengertian “topeng  kepribadian” dalam konteks ini menunjuk upaya penyembunyian diri yang asli dan kemampuan untuk berubah-ubah seperti “bunglon”, namun secara esensial dia tidak memiliki identitas diri yang telah diperbaharui.  Jadi sepertinya “topeng kepribadian” berhasil memberi kesan dan bentuk identitas diri yang “baik”  dan mungkin “mengesankan” terhadap diri seseorang; tetapi sesungguhnya dia penuh dengan kemunafikan/kepalsuan diri. Namun semua “topeng kepribadian” tersebut akan segera terlepas dan terlihat  wajah aslinya saat dia mengalami kesusahan, hal-hal yang pahit dan mengecewakan. Wajah aslinya ternyata adalah sikap egoisme, sikap iri-hati, pendendam, haus pujian, berpikiran picik dan berjiwa kerdil. Dengan demikian makna “identitas diri” yang baru seharusnya jauh dari sikap munafik atau sikap pura-pura. Jadi makna identitas diri yang baru  pada hakikatnya menunjuk kepada pola kehidupan yang telah diperbaharui secara esensial, sehingga dia mampu meninggalkan segala sifat-sifat atau karakternya yang lama dan tidak terpuji. Transformasi terhadap identitas diri kita hanya akan terjadi ketika kita membiarkan Allah memukul dan meruntuhkan kekuatan atau kebanggaan kita. Selama kita merasa diri “kuat”, “berjaya”,  dan “selalu dapat melakukan apa yang dikehendaki” akan memperkuat kristalisasi terhadap jati-diri kita yang lama. Dengan kristalisasi terhadap jati-diri kita yang lama itu, justru makin menyulitkan diri kita untuk terus berubah dan mengalami pembaharuan hidup. Sebab dengan “topeng diri” kita yang makin menyatu dengan “struktur” kepribadian yang ada, maka kita sering tidak mampu lagi untuk membedakan realitas kebenaran dengan kecurangan, keadilan dengan kelaliman, kemuliaan dengan kehinaan, antara iman dengan keyakinan diri, dan antara kasih dengan kebencian.  Itu sebabnya kita sering menjumpai seseorang yang terus-menerus hidup dengan “topeng diri” sampai akhir hayatnya. Dia tidak pernah berani menatap wajah asli yang dimilikinya.  Apabila ada orang atau teman yang berusaha membantu untuk menunjukkan wajah asli yang dimilikinya, maka dia akan segera menyerang dan membenci mereka. Dia lebih menyukai kepalsuan dan kemunafikan dirinya; dan tidak pernah mau berubah. Orang-orang dengan karakter demikian sering melupakan satu hal yang prinsipial dalam hidup ini yaitu bahwa dia memang bisa menipu banyak orang, tetapi dia tidak dapat menipu setiap orang.

Identifikasi Masalah :

Untuk apa seseorang memerlukan jati diri ?

Apabila kita berinteraksi, sehingga mempunyai kekuatan mempengaruhi.

Agar kita tahu posisi apa/peran apa, dan bagaimana hubungannya.

Diperlukan dalam interaksi.

Setiap orang dapat mempunyai lebih darui satu identitas, semakin luas pergaulan maka semakin banyak berperan, maka banyak pula jati dirinya.